Dua Wajah Bundaran HI: Antara Suara Kritis dan Sandiwara Kepalsuan
Oleh: Kawan Nazar
BanaspatiNetSeven.com ​][ Jakarta – Dalam tempo 24 jam, kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) berubah menjadi panggung teater politik yang memamerkan kontras paling vulgar dari cara penguasa memperlakukan ruang publik. Ada garis pemisah yang terbentang sangat tajam antara bagaimana aparat bersikap terhadap suara kritis rakyat, dengan bagaimana mereka merangkul sebuah seremoni pencitraan yang sarat kepalsuan.
​Dua Wajah Aparat: Ketakutan pada Kritik vs Karpet Merah Pencitraan
​
Wajah kepolisian dalam dua hari tersebut menunjukkan standar ganda yang mencederai keadilan publik:
• ​Wajah Pertama (28 Oktober): Represif dan Penuh Ketakutan. Saat mahasiswa turun ke jalan membawa gagasan, kritik, dan nurani melawan kebijakan, aparat bertindak layaknya menghadapi musuh negara. Barikade dikerahkan, rute disekat rapat, dan berbagai cara dihalalkan demi memastikan kaki-kaki mahasiswa tidak bisa menginjak Bundaran HI. Ini adalah gestur kepanikan akut dari kekuasaan yang alergi terhadap kritik murni.
• ​Wajah Kedua (29 Oktober): Ramah dan Memfasilitasi Dusta. Hanya berselang sehari, tempat yang sama mendadak steril dari barikade penolakan. Izin terbit tanpa hambatan, jalan dibuka lebar, dan aparat berubah hangat menjadi pengawal setia. Kapolda Metro Jaya hadir langsung bersanding dengan Raffi Ahmad, Staf Khusus Presiden Bidang Pemuda. Ruang publik disulap menjadi zona nyaman bagi lingkaran kekuasaan yang menggelar selebrasi.
​Panggung Sumpah Pemuda: Teriak Anti-Hoaks, Tapi Penuh Rekayasa
​
Ironisnya, acara yang dikomandoi Raffi Ahmad untuk menyerukan "perlawanan terhadap hoaks" justru berdiri di atas fondasi hoaks visual yang sangat kasar:
• ​Mahasiswa Jadi-Jadian: Terbongkarnya pengakuan jujur seorang pemuda yang meminta maaf karena mengenakan jas almamater kampus yang bukan miliknya. Ia mengaku hanya dipinjami jaket dan diarahkan untuk datang sebagai figuran.
• ​Gagap Identitas: Ketika peserta berjas kampus ditanya asalnya, mereka menjawab bingung hanya "dari kampus sana" tanpa mampu menyebutkan nama perguruan tingginya.
• ​Figuran Bayaran: Sekelompok pemuda berjaket almamater lintas kampus yang ditanya soal demo sehari sebelumnya, hanya tertawa lepas mengaku tidak ikut—menandakan mereka tidak punya keterikatan moral apa pun dengan denyut nadi perjuangan pemuda.
​
Mengemas peringatan Sumpah Pemuda yang sakral dengan mengerahkan "mahasiswa" bayaran demi estetika kamera dan pencitraan kekuasaan adalah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap sejarah. Ketika rezim menjadikan sandiwara dan dusta sebagai instrumen utama komunikasi publik, maka di situlah legitimasi moral perlahan runtuh.
​#DuaWajahBundaranHI
​#HariSumpahPemuda
​#HariSampahPemuda
​#StandarGandaAparat
​#MahasiswaJadiJadian
Redaksi : BanaspatiNetSeven.com