Politik 2 mnt baca

Warisan Paling Mahal

S
Sulis Nova fadli Diterbitkan pada 12 Jul 2026, 06:53 WIB
Warisan Paling Mahal
Warisan Paling Mahal Di negeri ini, ada investasi yang hasilnya paling pasti: memelihara harapan rakyat miskin. Caranya sederhana. Berikan janji saat musim pemilu, berikan tepuk tangan saat rakyat mulai bertanya, lalu minta mereka bersabar sambil mengatakan bahwa kesejahteraan sedang dalam perjalanan. Anehnya, resep itu selalu laku. Orang yang dompetnya paling tipis justru paling sibuk membela mereka yang rekeningnya paling tebal. Seolah-olah setiap foto pejabat yang dipuji bisa mengubah isi panci di dapur. Seolah setiap pembelaan di kolom komentar dapat dicairkan menjadi beras. Ketika harga kebutuhan naik, mereka menyebutnya cobaan. Ketika pejabat hidup bergelimang kemewahan, mereka menyebutnya hasil kerja keras. Ketika janji tak kunjung datang, mereka berkata, "Mungkin belum waktunya." Begitulah lingkaran itu terus berputar. Janji dipanen, suara dipetik, lalu rakyat kembali diminta percaya bahwa tahun depan akan lebih baik. Tahun depan datang, kalimatnya tetap sama. Yang berubah hanya kalender dan wajah di baliho. Yang paling menyedihkan bukanlah kemiskinan itu sendiri, melainkan ketika kemiskinan sudah merasa nyaman menjadi penjaga kekuasaan. Membela mereka yang tak mengenal namanya, memusuhi siapa pun yang mengajak berpikir, lalu pulang dengan kantong yang tetap kosong. Barangkali benar, kesejahteraan memang menetes ke bawah. Hanya saja, yang menetes terlalu sering hanyalah sisa-sisa. Sedangkan yang di atas masih sibuk menambah gelas agar tak ada yang terbuang. Lalu rakyat kembali diajari satu pelajaran paling setia: jangan terlalu banyak bertanya, cukup percaya. Sebab bagi sebagian orang, rakyat yang kritis adalah ancaman. Rakyat yang terus berharap, itulah aset yang paling menguntungkan. Red:(AGF)

Bagikan Artikel Ini

Sebarkan informasi dan artikel ini kepada publik.