Politik 2 mnt baca

Untungnya Untuk Elite Resikonya Untuk Rakyat

S
Sulis Nova fadli Diterbitkan pada 12 Jul 2026, 11:34 WIB
Untungnya Untuk Elite Resikonya Untuk Rakyat
Untungnya Untuk Elite Resikonya Untuk Rakyat Setiap kali negara meluncurkan proyek besar dengan nama yang megah dan narasi yang menjanjikan, masyarakat selalu diajak percaya bahwa masa depan yang lebih baik sudah di depan mata. Hari ini ada program MBG, ada pula Koperasi Merah Putih. Semuanya dibungkus dengan semangat kesejahteraan, pemerataan, dan kemajuan. Namun pengalaman mengajarkan satu hal penting: proyek besar sering kali lebih sibuk mengejar target politik daripada memastikan kesiapan di lapangan. Ketika program berhasil, para elite berebut panggung untuk mengklaim keberhasilan. Tetapi ketika muncul masalah, anggaran membengkak, tata kelola kacau, atau manfaat tidak sampai kepada masyarakat, yang pertama merasakan dampaknya justru rakyat. Pedagang kecil, petani, pelaku UMKM, dan warga biasa menjadi pihak yang harus menanggung risiko dari keputusan yang tidak mereka buat. Negara sering tampil gagah saat meresmikan program, tetapi tak jarang terlihat lamban ketika harus bertanggung jawab atas kegagalannya. Akhirnya yang tersisa hanyalah laporan, evaluasi, dan saling lempar tanggung jawab. Sementara masyarakat diminta bersabar, memahami situasi, dan menunggu perbaikan yang entah kapan datangnya. Yang lebih mengkhawatirkan, proyek-proyek semacam ini kerap menjadikan rakyat sekedar angka statistik. Mereka dijadikan bukti keberhasilan saat dibutuhkan, tetapi menjadi beban administrasi saat program bermasalah. Dalam kondisi seperti itu, rakyat bukan lagi subjek pembangunan, melainkan tumbal politik yang dikorbankan demi citra dan kepentingan kekuasaan. Karena itu, pertanyaan yang seharusnya terus diajukan bukanlah seberapa besar proyeknya, melainkan seberapa besar tanggung jawab negara jika proyek itu gagal. Sebab rakyat tidak hidup dari slogan, tidak makan dari seremoni, dan tidak sejahtera hanya karena baliho penuh janji. Jika keuntungan politik selalu dinikmati elite, sementara risiko selalu ditanggung masyarakat, maka pembangunan telah kehilangan makna dasarnya. Yang tersisa hanyalah panggung kekuasaan dengan pemain yang berganti-ganti, sementara tumbalnya tetap sama: rakyat.Red:(AGF)

Bagikan Artikel Ini

Sebarkan informasi dan artikel ini kepada publik.