Politik
2 mnt baca
Sang Penjaga Yang Jadi Pencuri
S
Sulis Nova fadli
Diterbitkan pada 12 Jul 2026, 11:26 WIB
Sang Penjaga Yang Jadi Pencuri
Konon, negeri ini punya penjaga hukum. Seragamnya gagah, jabatannya terhormat, pidatonya penuh kata "integritas". Mereka ditugaskan memburu maling.
Lucunya, setelah maling berhasil ditangkap, ternyata yang menghitung hasil rampasan ikut mengambil bagian.
Barangkali kita memang salah paham sejak awal. Yang kita kira operasi penindakan, jangan-jangan hanya proses pergantian pengelola.
Rakyat diajari percaya bahwa hukum itu buta. Benar, rupanya bukan hanya buta. Kadang tuli, kadang pincang, dan sesekali malah lihai memilih siapa yang boleh diburu dan siapa yang pantas dipeluk.
Ironisnya, penjahat kelas teri selalu ditampilkan bak trofi keberhasilan. Difoto, dipamerkan, diborgol. Sementara ketika yang tertangkap justru mereka yang setiap hari bersumpah menjaga hukum, kita baru sadar bahwa tikus ternyata tidak hanya hidup di got. Ada yang tinggal nyaman di dalam lumbung.
Inilah paradoks paling mahal di negeri ini.
Kunci brankas keadilan diberikan kepada orang yang ternyata juga membawa kantong belanja.
Mereka tidak sekedar mencuri uang negara. Mereka mencuri alasan rakyat untuk percaya. Mereka merampok harapan bahwa kejujuran masih memiliki alamat.
Lalu setiap kali skandal terbongkar, pertunjukan lama kembali dimainkan.
Dibentuk tim.
Dibentuk satgas.
Dibentuk komisi.
Dibentuk slogan.
Yang tidak pernah dibentuk hanyalah rasa malu.
Budaya korsa kemudian dipoles menjadi solidaritas. Menutupi kebusukan disebut menjaga nama baik institusi. Seolah-olah institusi akan harum hanya karena bangkai disembunyikan di bawah karpet.
Padahal bau busuk tidak pernah mengenal pangkat.
Yang lebih menggelikan, rakyat selalu diminta percaya bahwa ini hanyalah ulah "oknum".
Aneh.
Jumlah oknumnya begitu banyak, muncul di berbagai lembaga, berganti seragam, berganti jabatan, berganti perkara, tetapi narasinya tetap sama: oknum.
Kalau hampir setiap musim panen selalu menghasilkan "oknum", mungkin yang perlu diperiksa bukan lagi buahnya, melainkan kebun yang terus dipupuk dengan impunitas.
Negeri ini tidak sedang kekurangan undang-undang.
Yang langka justru keberanian menghukum kawan sendiri.
Sebab rupanya, keadilan di negeri ini masih mengenal silsilah pertemanan sebelum mengenal isi berkas perkara.
Mungkin sudah waktunya papan bertuliskan "Penegak Hukum" diganti menjadi "Pengelola Kepercayaan Publik."
Karena yang hilang hari ini bukan hanya uang rakyat.
Yang lebih dulu habis adalah keyakinan bahwa rumah bernama keadilan masih dihuni penjaga, bukan pencuri yang kebetulan memegang kunci.Red:(AGF)