Politik
1 mnt baca
Perang Dingin Dan Saling Mengunci Dua Poros
S
Sulis Nova fadli
Diterbitkan pada 12 Jul 2026, 12:38 WIB
Perang Dingin dan Saling Mengunci Dua Poros
Publik kini disuguhi tontonan menarik: benarkah peta penegakan hukum kita sedang terbelah dua? Muncul spekulasi bahwa instrumen hukum kini terjebak dalam pusaran faksi politik elite.
• ​Poros Kejaksaan Agung–TNI (Faksi Prabowo?) Agresivitas Kejaksaan Agung membongkar megakorupsi komoditas—dikawal ketat personel militer—menimbulkan pertanyaan besar. Apakah ini manuver ofensif poros Prabowo untuk mengamankan penerimaan negara, mendobrak bisnis hitam, sekaligus menegaskan taji kekuasaan baru?
• ​Poros Polri–KPK (Faksi Jokowi?) Di sisi lain, ada poros Polisi-KPK yang diduga bergerak di bawah pengaruh politik Jokowi. Publik berspekulasi: apakah agresivitas Kortastipidkor Polri yang baru dan operasi senyap KPK merupakan manuver ofensif tandingan? Muncul hipotesis bahwa poros ini sengaja dikonsolidasikan secara masif untuk melakukan serangan balik hukum (counter-attack), membongkar "kartu mati" lawan, dan menegaskan dominasi politik faksi lama agar tidak mudah didepak dari panggung kekuasaan.
​Jika hipotesis ini benar, kita sedang menyaksikan perang terbuka dua poros penegakan hukum yang sama-sama ofensif. Akankah Kejaksaan-TNI berhasil meruntuhkan gurita bisnis lama, ataukah Polri-KPK justru mampu melumpuhkan balik benteng pertahanan lawan?
Pertarungan ini tampaknya bukan lagi soal keadilan, melainkan perebutan supremasi faksi politik di atas panggung kekuasaan.
Red:(AGF)