Politik 3 mnt baca

Membeli Waktu dengan Kebohongan: Tiga Wajah Kleptokrasi Abad Ke-20

S
Sulis Nova fadli Diterbitkan pada 18 Jul 2026, 11:50 WIB
Membeli Waktu dengan Kebohongan: Tiga Wajah Kleptokrasi Abad Ke-20
Membeli Waktu dengan Kebohongan: Tiga Wajah Kleptokrasi Abad Ke-20 ​Sejarah mencatat bahwa pencurian kas negara secara terstruktur tidak pernah berdiri sendiri. Di balik hilangnya miliaran dolar uang rakyat, selalu ada mesin propaganda yang bekerja siang dan malam. Ini adalah kisah tentang kekuasaan absolut yang dikelola layaknya kejahatan terorganisir sebuah fenomena yang dalam leksikon politik global dikenal sebagai kleptokrasi. ​Berdasarkan catatan panjang Transparency International, setidaknya ada tiga kepala negara di abad ke-20 yang mendemonstrasikan bagaimana kebohongan sistematis digunakan untuk menutupi perampokan ekonomi berskala masif. ​Darurat Militer dan Ilusi Ketertiban: Ferdinand Marcos ​Di Filipina, Ferdinand Marcos (menjabat 1972–1986) merancang salah satu arsitektur korupsi paling canggih di Asia Tenggara. Dalih utamanya terdengar patriotik: menyelamatkan negara dari ancaman komunisme dan pemberontakan. ​Melalui Deklarasi Darurat Militer, Marcos membungkam pers independen dan memenjarakan para oposisi politik. Dalam kegelapan informasi tersebut, sebuah narasi tunggal diciptakan bahwa ekonomi Filipina sedang berada di masa keemasannya. Namun, realitas di balik layar jauh berbeda. Sambil menyuapi rakyatnya dengan ilusi ketertiban dan proyek-proyek infrastruktur mercusuar, keluarga Marcos dan kroni-kroninya ditaksir menjarah antara 5 hingga 10 miliar dolar AS dari kas negara, memonopoli industri strategis, dan menumpuk utang luar negeri yang membebani beberapa generasi berikutnya. ​Kultus Individu di Atas Runtuhnya Infrastruktur: Mobutu Sese Seko ​Beralih ke benua Afrika, Mobutu Sese Seko memimpin Zaire (kini Republik Demokratik Kongo) dengan gaya teatrikal selama lebih dari tiga dekade (1965–1997). Mobutu tidak hanya merampok kekayaan alam negaranya, tetapi juga mencuri akal sehat publik melalui kultus individu yang ekstrem. ​Media milik negara diwajibkan mengawali siaran dengan tayangan Mobutu yang seolah turun dari awan. Ia menahbiskan dirinya sebagai "Bapak Bangsa" yang diutus untuk membawa kejayaan Afrika. Kebohongan demi kebohongan terus direproduksi setiap hari, sementara Mobutu secara pribadi menimbun kekayaan hingga 5 miliar dolar AS. Ironisnya, ketika sang diktator membangun istana-istana mewah dan menyewa pesawat Concorde untuk berbelanja ke Paris, jalan-jalan raya di Zaire hancur lebur ditelan hutan dan rumah sakit beroperasi tanpa obat-obatan dasar. ​Transisi Semu yang Tak Pernah Tiba: Sani Abacha ​Jika Marcos menggunakan dalih keamanan dan Mobutu menggunakan kultus individu, Sani Abacha dari Nigeria (1993–1998) menggunakan janji politik sebagai komoditas kebohongannya. ​Abacha secara konsisten berjanji kepada rakyat Nigeria dan komunitas internasional bahwa pemerintahannya hanyalah fase transisi untuk mengembalikan demokrasi ke tangan sipil. Janji ini terus diulang layaknya mantra penenang. Di saat publik dibiarkan menunggu demokrasi yang tak kunjung datang, Abacha bersama keluarganya secara sistematis menguras bank sentral Nigeria. Hanya dalam waktu lima tahun kekuasaannya, ia berhasil melarikan dana antara 2 hingga 5 miliar dolar AS ke berbagai rekening rahasia di Eropa. ​Anatomi Kebohongan Negara ​Dari ketiga rezim ini, benang merahnya terlihat jelas: korupsi di tingkat kepala negara selalu membutuhkan infrastruktur kebohongan. ​Mereka menggunakan instrumen negara mulai dari kementerian penerangan, militer, hingga peradilan untuk menyensor kebenaran. Proyek infrastruktur raksasa sering kali dibangun bukan untuk efisiensi publik, melainkan sebagai etalase kemajuan palsu sekaligus ladang penggelembungan dana (markup). Ketika krisis ekonomi mulai mencekik kehidupan rakyat, para pemimpin ini tidak pernah kehabisan kambing hitam, menyalahkan "campur tangan asing" atau "pengkhianat negara" sebagai penyebab penderitaan. ​Pada akhirnya, sejarah membuktikan bahwa kebohongan negara memiliki batas kedaluwarsa. Rezim Marcos tumbang oleh kekuatan moral revolusi rakyat (People Power), sementara kekuasaan Mobutu runtuh oleh pemberontakan ketika kas negaranya benar-benar kering. Kisah mereka meninggalkan preseden penting: di negara mana pun, pemerintahan yang paling gemar memonopoli kebenaran sering kali adalah pemerintahan yang paling banyak menyembunyikan kejahatan. Red:(AGF)

Bagikan Artikel Ini

Sebarkan informasi dan artikel ini kepada publik.