Membedah Prabowonomics: Retorika Ambisi Mercusuar di Atas Puing Fiskal
Membedah Prabowonomics: Retorika Ambisi Mercusuar di Atas Puing Fiskal
Oleh: Kawan Nazar
​Prabowonomics disemburkan sebagai cetak biru ekonomi lewat kemasan nasionalisme populis. Koridor utamanya mengandalkan peran negara yang sangat dominan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan mengontrol arah ekonomi demi swasembada pangan-energi serta proteksi aset nasional. Namun, saat diturunkan ke ranah empiris, yang tampak bukanlah kebangkitan, melainkan dongeng politik yang runtuh diterjang realitas.
​Mitos Fiskal dan Aritmatika Panggung yang Ngawur
Skeptisisme analis makroekonomi bersumber dari jurang ketimpangan antara pengeluaran fantastis dan penerimaan negara yang megap-megap. Sebuah anomali besar ketika kita bicara konsep ekonomi tinggi, namun kemampuan dasar berhitung dan kalkulasi matematis saja belepotan. Pembalikan logika aritmetika dasar hingga klaim angka kebocoran anggaran yang berubah-ubah di panggung politik memperlihatkan bahwa perencanaan negara tidak didasari data presisi, melainkan retorika asal sebut.
​Bagaimana mungkin membiayai makan gratis hingga belanja pertahanan jumbo saat tax ratio stagnan di level rendah? Saat pendapatan tak mencukupi, bukannya merasionalisasi belanja, pemerintah justru memaksakan penerimaan secara membabi buta.
​Utopia Petani dan Realitas Agraria yang Getir
Janji mengentaskan kemiskinan desa dan memutus tengkulak—hingga klaim "petani bisa liburan ke luar negeri"—mengabaikan masalah struktural agraria:
• ​Ketimpangan Lahan: Mayoritas petani menguasai tanah di bawah 0,5 hektar. Tanpa reformasi agraria sejati, memotong marjin penggilingan tidak akan mengubah nasib mereka.
• ​Pendekatan Komando: Swasembada pangan top-down dan food estate terbukti berulang kali gagal karena mengabaikan ekosistem lokal dan lingkungan.
​Janji manis ini jadi candaan pahit di tengah lonjakan harga pupuk, kelangkaan air, dan ancaman penggusuran atas nama investasi.
​Inovasi Represi Pajak: Mencekik Rakyat, Memanjakan Oligarki
Untuk menutupi defisit akibat program boros, negara bertindak ekstraktif kepada rakyat bawah, namun bertekuk lutut di hadapan pemilik modal besar:
• ​Penyanderaan Hak Dasar: Ancaman penolakan BBM bersubsidi bagi penunggak pajak mengubah bantuan sosial menjadi alat pemaksa fiskal.
• ​Militerisasi & Intimidasi Sosial: Pelibatan aparat kewilayahan hingga penempelan stiker penunggak pajak memberi intimidasi psikologis bagi warga yang kesulitan finansial.
• ​Kontras Menyakitkan: Saat rakyat kecil diburu instrumen negara, para konglomerat justru disuguhi karpet merah berupa tax amnesty berturut-turut.
​
Menggugat Arah Kebijakan Ekonomi
Prabowonomics menggabungkan retorika ambisi mercusuar dengan penindasan fiskal. Peran negara yang dominan dalam mengontrol ekonomi telah bergeser menjadi aksi pemerasan rakyat sendiri. Jika tidak segera dikoreksi, yang tersisa bukanlah "negara terkaya keempat di dunia", melainkan bangsa yang bangkrut secara fiskal dan hancur secara sosial.
Red:(AGF)
#prabowonomics
#pendekatankomando
#represipajak
#militerisasi