Politik 3 mnt baca

DIBALIK LOGIKA TERBALIK PRABOWO

S
Sulis Nova fadli Diterbitkan pada 11 Jul 2026, 06:00 WIB
DIBALIK LOGIKA TERBALIK PRABOWO
Di Balik Logika Terbalik Prabowo: Ketika "Dibenci" Menjadi Tanda Kehormatan Dalam hiruk-pikuk politik pasca-pemilu, sebuah kalimat tajam meluncur dari Hambalang awal tahun ini. Di hadapan para menteri dan pejabat negara, Presiden Prabowo Subianto tidak memberikan motivasi dengan kata-kata manis. Ia justru memberikan sebuah doktrin pertahanan mental: "Kalau orang jahat ngejek, berarti kita benar." Sekilas, ini terdengar seperti pembelaan diri biasa. Namun, jika dibedah lebih dalam, kalimat ini adalah sebuah "Mantra Perang" yang cerdik sekaligus berbahaya. Filosofi "Polisi dan Maling" Untuk memahami logika ini, kita harus menyelami pola pikir militer yang sering dipakai Prabowo. Ia menggunakan analogi sederhana namun mematikan: Hubungan Polisi dan Maling. Logikanya begini: Jika seorang polisi dipuji-puji oleh bandar narkoba atau disanjung oleh maling, besar kemungkinan polisi itu "bisa diajak cincai" atau sudah masuk angin. Sebaliknya, jika seorang polisi dibenci, dimaki, dan diejek oleh para kriminal, itu adalah tanda bahwa polisi tersebut bekerja dengan lurus, keras, dan tidak bisa disogok. Dalam doktrin ini, kebencian dari musuh adalah medali kehormatan. Prabowo sedang membalikkan persepsi umum. Jika biasanya pejabat takut di-bully, kini bully-an itu di-rebranding menjadi tanda kesuksesan. Siapa Sebenarnya "Orang Jahat" Itu? Tentu saja, Prabowo tidak sedang bicara soal copet di terminal. Dalam konteks kenegaraan, label "Orang Jahat" ini membidik target yang jauh lebih besar: * Mafia dan Oligarki Nakal: Mereka yang selama ini menikmati celah hukum, memainkan kuota impor, atau memanipulasi pajak. Ketika kebijakan pengetatan dilakukan, "periuk nasi" mereka terganggu. Teriakan protes mereka inilah yang disebut Prabowo sebagai "ejekan orang jahat." * Barisan "Sakit Hati": Kelompok politik atau birokrat lama yang kehilangan akses kekuasaan dan kenyamanan akibat bersih-bersih birokrasi. Dengan menanamkan mindset ini, Prabowo sedang memberitahu menterinya: "Jangan takut bikin kebijakan yang tidak populer di mata elit. Kalau mereka teriak, berarti kalian sudah memukul di titik yang tepat." Tameng Mental atau Jebakan Demokrasi? Di sinilah letak kejeniusan sekaligus bahayanya narasi ini. Sebagai alat manajemen, ini brilian. Ia berfungsi sebagai "imunisasi" bagi mental para menteri agar tidak baperan menghadapi serangan media atau opini publik saat melakukan terobosan radikal. Namun, sebagai alat politik, ini menciptakan sebuah jebakan biner (dua kutub) yang mengerikan. Narasi ini berpotensi mematikan kritik yang valid. Bayangkan skenarionya: Ketika masyarakat sipil, mahasiswa, atau pers mengkritik kebijakan yang keliru, pemerintah bisa dengan mudah berlindung di balik mantra ini. Kritik tidak lagi dilihat sebagai masukan, tapi dicurigai sebagai "pesanan orang jahat" yang terganggu kepentingannya. Conclusion: Pernyataan Prabowo adalah sebuah psywar (perang urat syaraf). Ia sedang mengirim sinyal kepada para mafia bahwa "gonggongan" mereka tidak akan didengar. Namun, bagi kita rakyat biasa, kita harus tetap waspada. Jangan sampai definisi "Orang Jahat" itu meluas secara liar hingga membungkam suara kebenaran yang sesungguhnya. Karena dalam politik, batas antara "Polisi yang tegas" dan "Penguasa yang anti-kritik" seringkali setipis benang. Red : Agung

Bagikan Artikel Ini

Sebarkan informasi dan artikel ini kepada publik.