Politik
2 mnt baca
Bersihkan Kotoran Kerbau
S
Sulis Nova fadli
Diterbitkan pada 12 Jul 2026, 11:31 WIB
Bersihkan Kotoran Kerbau
Aneh memang negeri ini.
Kalau jalannya berlubang, rapatnya yang mulus.
"Maaf, itu jalan desa."
"Itu kewenangan kabupaten."
"Bukan, itu jalan provinsi."
"Kami belum bisa bergerak, anggarannya bukan di kami."
Seolah-olah lubang di jalan ikut membaca aturan administrasi sebelum mencelakakan orang.
Masyarakat sebenarnya sederhana. Mereka tidak peduli itu jalan desa, jalan kabupaten, atau jalan provinsi. Mereka hanya ingin pulang ke rumah tanpa harus menghindari lubang seperti sedang ikut lomba mencari SIM.
Tapi tunggulah...
Begitu aspal mulai dituang, mendadak bermunculan para pejuang dadakan.
Yang kemarin sibuk melempar tanggung jawab, hari ini sibuk melempar senyum ke kamera.
Yang kemarin berkata, "Bukan kewenangan kami," kini berubah menjadi, "Berkat perjuangan kami."
Di Bali, ada istilah yang pas: nyongkokin tain kebo.
Kerbaunya bekerja, orang lain yang jongkok paling dulu lalu mengaku itu hasilnya.
Lengkap dengan gaya bak veteran perang yang menepuk dada sambil berkata,
"Cang ngeranaang ne!"
Padahal yang diperjuangkan bukan jalan, melainkan siapa yang lebih dulu muncul di baliho dan media sosial.
Beginilah ironi pelayanan publik.
Saat rakyat butuh tindakan, yang datang adalah alasan.
Saat pekerjaan selesai, yang datang adalah rombongan pencari kredit.
Kalau saja semangat mengaku berjasa sebesar semangat memperbaiki jalan sejak awal, mungkin rakyat sudah lama menikmati jalan yang layak.
Sayangnya, di negeri yang gemar berburu pencitraan, aspal sering kali lebih cepat kering daripada rasa malu.Red:(AGF)