Putin Soroti Besarnya Bobot Indonesia : Prabowo Harus Berhati - Hati Dalam Mengambil Keputusan
BanaspatiNetSeven.com ][ Vladivostok - Sebuah pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin di hadapan forum internasional kembali menempatkan Indonesia pada sorotan geopolitik dunia.
Di tengah persaingan kekuatan besar yang semakin tajam, Putin secara khusus menyinggung posisi Indonesia—negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di planet ini.
Pesannya terdengar sederhana, tetapi memiliki bobot geopolitik yang besar.
Putin menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang harus diperhitungkan dalam setiap kebijakan global.
«“Indonesia bukan hanya negara terbesar dengan populasi Muslim terbesar, tetapi juga salah satu negara terbesar di dunia. Apa pun jenis kebijakan yang sedang dijalankan di bagian dunia mana pun, Anda harus memperhitungkan hal ini juga.”»
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok.
Dan di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Jika Indonesia memang memiliki bobot sedemikian besar, maka setiap keputusan yang diambil Jakarta tidak lagi hanya menjadi urusan domestik.
Keputusan Jakarta dapat dibaca, dihitung, bahkan diperebutkan oleh kekuatan-kekuatan besar dunia.
Indonesia berada di posisi yang unik. Negara ini merupakan kekuatan utama ASEAN, memiliki pasar dan populasi raksasa, berada di jalur perdagangan strategis dunia, sekaligus mempunyai pengaruh penting di antara negara-negara Global South dan dunia Muslim.
Artinya, ketika Jakarta menentukan sikap terhadap isu ekonomi, perdagangan, keamanan, konflik internasional, hingga hubungan dengan negara-negara besar, dampaknya dapat menjalar jauh melampaui kawasan Asia Tenggara.
BUKAN SEKADAR PUJIAN
Pernyataan Putin memang tidak secara eksplisit mengatakan bahwa Presiden Prabowo harus “berhati-hati”.
Namun secara geopolitik, pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai sebuah pengingat keras mengenai konsekuensi dari posisi Indonesia.
Semakin besar sebuah negara, semakin besar pula konsekuensi dari keputusan pemimpinnya.
Apalagi Indonesia berada di tengah tarik-menarik kepentingan Amerika Serikat, China, Rusia, India, negara-negara Timur Tengah, dan kekuatan ekonomi global lainnya.
Salah mengambil posisi bukan sekadar persoalan diplomasi.
Dampaknya bisa menyentuh perdagangan, investasi, energi, pertahanan, keamanan, hingga hubungan Indonesia dengan dunia Muslim.
Karena itu, pesan yang dapat ditarik dari pernyataan Putin menjadi relevan bagi pemerintahan Prabowo:
Jika dunia harus memperhitungkan Indonesia, maka Indonesia juga harus menghitung dengan sangat cermat setiap langkahnya.
PRABOWO DAN POLITIK BEBAS AKTIF
Menariknya, Prabowo sendiri menegaskan bahwa Indonesia tetap berpegang pada politik luar negeri bebas aktif.
Indonesia, menurut Prabowo, terbuka bekerja sama dengan berbagai negara dan tidak ingin menjadikan kerja sama dengan satu kelompok sebagai alat untuk menghadapi kelompok lainnya.
Sikap tersebut menjadi penting ketika dunia semakin terpolarisasi.
Indonesia harus menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan tanpa kehilangan ruang untuk menentukan kepentingannya sendiri.
Sebab, negara dengan hampir 300 juta penduduk dan populasi Muslim terbesar dunia bukan negara kecil yang bisa mengambil keputusan tanpa konsekuensi.
Setiap langkah Jakarta akan diperhatikan.
Setiap keberpihakan akan dihitung.
Dan setiap kesalahan kalkulasi bisa memiliki harga yang jauh lebih mahal.
Maka, apakah pernyataan Putin sekadar pujian?
Atau justru sebuah pengingat geopolitik bahwa Indonesia kini memiliki bobot yang terlalu besar untuk mengambil keputusan secara gegabah?
Satu hal jelas:
Semakin besar Indonesia diperhitungkan dunia, semakin besar pula tanggung jawab Prabowo dalam menentukan ke mana Indonesia melangkah.
Redaksi : AGF