Berita Utama 4 mnt baca

Pesta Kaum Mayoritas dan Matinya Nalar Kritis Umat

R
R. Syarif Umar Al Faruq P Diterbitkan pada 01 Sep 2026, 18:25 WIB
Pesta Kaum Mayoritas dan Matinya Nalar Kritis Umat

 

Oleh: Kawan Nazar

 

BanaspatiNetSeven.com ][ ​Tulisan Ahmad Inung—yang meminjam humor satir Gus Mus: "Ternyata Kita Gak Butuh Gus Mus kan", bukan sekadar sentilan moral yang menggantung di udara. Guyonan bahwa jangan-jangan kita adalah buzzer garis keras Abu Jahal jika hidup di Makkah 1.400 tahun lalu menemukan relevansi sosiologisnya yang sangat telanjang hari ini. Tulisan itu memaksa kita menatap cermin moral kaum muslimin saat ini: sebuah potret tentang bertumbuhnya spesies manusia yang mahir berhitung untung-rugi dan selalu rindu merapat ke arah angin kekuasaan.

 

​Jika refleksi tersebut diletakkan dalam lini masa sejarah dakwah Islam, karakter manusia pemburu kenyamanan ini tidak berhenti pada pilihan antara berpihak kepada Rasulullah atau sowan ke rumah Abu Jahal di fase Makkah. Karakteristik ini berevolusi, membesar, dan pada akhirnya menjadi arus utama yang menentukan arah sejarah politik dan peradaban umat.

​Dari Makkah ke Madinah: Kalkulasi Untung-Rugi Sang Oportunis

​Pada fase awal dakwah di Makkah, Islam adalah seruan pembongkaran hierarki sosial dan eksploitasi ekonomi. Mengikuti Nabi berarti siap terasing, dimiskinkan, dan dipersekusi. Secara rasional-pragmatis, tak ada insentif materiil untuk berada di barisan ini. Maka, mayoritas masyarakat Makkah yang bertipe pemburu kenyamanan memilih aman di bawah ketiak oligarki Quraisy.

​Dinamika ini berubah ketika panggung politik bergeser ke Madinah hingga peristiwa Penaklukan Makkah (Fathu Makkah). Manusia-manusia kalkulatif tidak benar-benar lenyap; mereka hanya beradaptasi. Ketika Islam mulai memegang kendali kekuasaan dan pasar, naluri oportunis membawa mereka berbondong-bondong masuk ke dalam barisan pemenang. Mereka bukan kelompok yang rela berdarah-darah di fase awal, melainkan kelompok yang baru memeluk Islam setelah risiko politiknya berada di titik nol.

​Masuknya massa bertipe pembonceng kekuasaan ini membawa implikasi serius. Islam yang mereka hayati bukan lagi sebuah transformasi etis-spiritual, melainkan sekadar identitas sosial baru yang aman, menguntungkan, dan menjanjikan privilese. Agama yang tadinya hadir untuk mengguncang kemapanan yang lalim bergeser menjadi identitas baru bagi kaum pemburu kemapanan.

​Ketika Mu’awiyah dan Yazid Menguasai Panggung

​Pergeseran demografis dan mentalitas ini menemukan bentuk ekstremnya pasca-era Khulafaur Rasyidin. Ketika lanskap politik Islam bertransisi menjadi monarki autokrasi di bawah Umayyah, kelompok mayoritas pragmatis inilah yang menjadi penopang utama status quo.

 

​Manusia-manusia yang digambarkan Gus Mus—yang panik jika kehilangan sedikit kenyamanan dan selalu merapat ke arah modal—adalah mereka yang membiarkan konsolidasi kekuasaan Mu'awiyah berlangsung tanpa perlawanan berarti. Bahkan, mereka pulalah yang secara pasif maupun aktif mendukung Yazid naik ke puncak panggung, meski harus mengorbankan prinsip-prinsip keadilan dan nilai kepemimpinan sah yang diwariskan Nabi.

​Mengapa mereka membiarkannya? Karena di bawah kekuasaan yang stabil—meski otoriter—syahwat keamanan materiil dan privilese sosial mereka terjamin. Suara-suara kritis yang mengingatkan pada etos awal Islam dianggap sebagai pengganggu ketertiban atau merusak kerukunan. Stigma tersebut sangat mirip dengan cara pandang kaum pemburu kemapanan hari ini, di mana sikap kritis dianggap benturan yang tak perlu dan kepatuhan pada kekuasaan dianggap sebagai puncak kearifan.

​Menyingkirkan Gus Mus: Kemenangan Pragmatisme Beragama

​Dalam konteks kehidupan beragama kita hari ini, kekecewaan terhadap tatanan sosial yang pragmatis berangkat dari akar masalah yang sama: kemenangan mentalitas mayoritas yang tak lagi membutuhkan suara kritis.

 

​Gus Mus, dengan segala kelakar dan kebeningannya, mewakili suara nurani yang terus mengingatkan fungsi profetis agama: membela yang lemah, menjaga jarak dari godaan kekuasaan, dan berani bersikap jernih di tengah konsumerisme politik. Namun, bagi masyarakat yang sedang bernafsu memburu akses modal, jabatan, dan penerimaan sosial, suara semacam ini adalah gangguan yang tidak efisien.

​Sentilan "ternyata kita tidak butuh Gus Mus" adalah pengakuan yang jujur sekaligus ironis. Kita tidak lagi membutuhkan figur kritis karena kita telah nyaman menjadi mayoritas penikmat kekuasaan—tipe manusia yang dalam sejarah akan berdiri di belakang kekuasaan oligarki demi mengamankan jatah posisi, atau setidaknya memilih berdiam diri saat keadilan diinjak-injak.

​

Cermin Moral Kaum Mayoritas

​Sejarah Islam tidak dibentuk oleh wacana retoris di podium atau tagar manis di media sosial, melainkan oleh pergeseran mentalitas pengikutnya. Ketika kaum muslimin bertransformasi menjadi mayoritas yang rakus privilese dan merindukan kemapanan, agama lambat laun bergeser dari alat pembebasan menjadi instrumen legitimasi kekuasaan.

​Melihat realitas sosiologis hari ini, mengutuk Abu Jahal atau merindukan zaman Nabi hanyalah bentuk romantisme yang dangkal. Selama nalar beragama kita masih ditempatkan sebagai transaksi untung-rugi sosial-ekonomi, kita sejatinya sedang mengulang jejak sejarah kaum mayoritas di masa lalu: menjadikan petuah moral sekadar angin lalu, lalu melanjutkan pesta perburuan kekuasaan dengan rasa bangga yang palsu.

 

#GusMus

#cerminmoral

#oportunis

#kaummayoritas

 

Red : Agf

Bagikan Artikel Ini

Sebarkan informasi dan artikel ini kepada publik.