Cermin Terhianati oleh Para Pejabat Negari Yang di Perjuangkan Sang Panglima Besar Jenderal Sudirman
Berita BanaspatiNetSeven.com ][ Kala keputusan harus di ambil di ambang hayat, batas antara tekad dan kegilaan itu kadang tipis sekali. Dan sejarah bangsa ini, pernah berdiri menari-nari tepat di atas garis tipis itu.
Kita masuk ke realitas yang baunya anyir darah, keringat dingin, dan bau obat-obatan yang menguap dari tubuh seorang pria berumur 32 tahun.
Ya, 32 tahun. Usia di mana orang zaman sekarang mungkin masih bingung mencari passion atau sibuk healing, tapi dia sudah harus menanggung nyawa satu republik di pundaknya yang ringkih.
Pagi itu, Minggu 19 Desember 1948.
Harusnya ini hari di mana orang-orang Yogyakarta bisa napas panjang. Udara pagi masih basah, orang-orang bersiap nyeruput kopi, atau sekadar beres-beres rumah.
Pasukan militer republik juga lagi banyak yang ambil cuti. Suasana ibu kota kita saat itu lagi lumayan santai. Pemimpin politik kita masih percaya sama yang namanya meja perundingan dan diplomasi.
Tapi ketenangan itu cuma ilusi tolol yang harud di bayar sangat mahal sekali.
Tiba-tiba aja, langit di atas pangkalan udara Maguwo robek. Bukan suara petir, tapi raungan memekakkan telinga dari mesin-mesin pembunuh. Tanpa aba-aba, formasi pesawat pengebom B-25 Mitchell dan pesawat tempur P-51 Mustang milik Belanda menyeruak dari balik awan.
Ledakan pertama langsung mengubah Minggu pagi yang damai jadi neraka. Asap hitam mengepul tebal, memakan langit Jogja. Dari perut pesawat-pesawat itu, pasukan payung Belanda turun laksana jamur putih yang membawa petaka. Mereka bersenjata lengkap, wajah-wajah dingin yang siap membantai. Mereka menamai ini Operatie Kraai, alias Operasi Gagak. Sebuah nama yang pas, karena pagi itu, kematian memang sedang mengitari Yogyakarta.
Di tengah kekacauan itu, di sebuah rumah yang sunyi, terbaring seorang laki-laki yang bahkan untuk bernapas saja butuh perjuangan.
Namanya Sudirman.
Penyakit tuberkulosis (TBC) sudah menggerogoti tubuhnya dengan brutal. Paru-parunya cuma sisa satu yang berfungsi, itu pun sudah payah.
Dokter pribadinya, dr. Suwondo, sudah memberikan vonis yang jelas " Istirahat total, atau mati" Jangankan untuk memegang senjata, untuk berdiri tegak saja dadanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
Ketika berita serangan Maguwo sampai ke telinganya. Secara logika, secara medis, secara akal sehat manusia normal, dia harusnya diam. Dia punya alasan paling valid di dunia untuk tetap di kasur.
Tapi di sinilah letak Patriotisme yang tidak dimiliki oleh Pemimpin-pemimpin Politik di Jamannya bahkan hingga kini. Di sinilah letak momen historis yang mungkin di Jaman ini dibilang terlalu berlebihan.
Sudirman bangkit. Dengan wajah pucat pasi, nafas tersengal yang bunyinya terdengar parau dari tenggorokan, dia menolak untuk takluk. Istrinya menangis, dokter melarang keras. Tapi matanyanyang cekung dan redup karena penyakit itu,tiba-tiba menyala oleh amarah dan kehormatan yang nggak bisa dibeli.
Dia mengenakan mantel panjangnya yang kebesaran karena tubuhnya yang menyusut kurus. Dia memaksa pergi ke Istana Kepresidenan. Di sana, kepanikan sudah merajai ruangan.
Soekarno, Hatta, dan para menteri sipil sedang berdebat panas.
Keputusan akhir dari para politisi ini membuat darah Sudirman mendidih, Pemerintah memilih untuk diam di keraton, membiarkan diri mereka ditangkap Belanda dengan harapan bisa menarik simpati dunia internasional lewat PBB.
Ini adalah momen krusial yang jarang diekspos dengan emosi yang pas. Bayangkan posisi Sudirman. Pemimpin politik yang dihormatinya memilih menyerah secara fisik (meski berdalih taktik).
Sudirman menatap Soekarno dan dengan suara bergetar namun setajam silet, dia berkata kurang lebih
“Tempat saya adalah bersama rakyat dan tentara. Saya adalah tentara, dan tentara tidak akan menyerah”
Soekarno memintanya tinggal. “Kondisimu tidak memungkinkan, Dirman.”
Tapi Sudirman menolak perlindungan. Dia keluar dari istana itu, meninggalkan para politisi yang menunggu dijemput pasukan Belanda. Mulai detik itu, satu-satunya simbol kedaulatan Republik Indonesia yang masih bebas, bergerak, dan melawan, ada di dalam tubuh seorang pria penyakitan yang paru-parunya tinggal sebelah.
Inilah awal dari mimpi buruk selama tujuh bulan. Awal dari epik gerilya yang menguras tenaga,fikiran,air mata,darah dan bahkan nyawa.
Keluar dari Jogja, Belanda langsung memburu Sudirman layaknya memburu binatang buas. Jenderal Spoor, panglima militer Belanda, tahu betul, menangkap Soekarno-Hatta itu menang politik, tapi membunuh Sudirman berarti menghancurkan tulang punggung perlawanan militer Indonesia selamanya. Target utama Operasi Gagak sekarang beralih fokus
“Cari Sudirman. Hidup atau mati”
Realitas tandu bambu yang membawa beliau
Jangan pernah membayangkan tandu itu seperti singgasana raja. Tandu itu dibuat seadanya dari kursi reyot yang diikat ke batang bambu oleh pengawalnya. Itu adalah kursi penderitaan. Hutan Jawa di akhir tahun adalah neraka tropis. Hujan turun nyaris setiap hari. Lebat, dingin, dan menusuk tulang.
Rombongan kecil ini—hanya beberapa puluh orang pengawal setia harus menembus hutan lebat, mendaki gunung kapur yang gersang, menuruni jurang yang licin, dengan perbekalan yang nyaris nol.
Para pengawalnya menggotong tandu di atas pundak,di tengah terik mementari dan juga derasnya hujan.
Kadang di langit sering kali bergemuruh oleh suara pesawat cocor merah Belanda yang terbang rendah, menyisir hutan, memuntahkan peluru ke apa saja yang bergerak.
Di bawah tanah berlumpur, pacet (lintah) menempel menghisap darah di kaki. Dan di atas tandu, para pengawal mendengar Panglima Besar terbatuk-batuk menahan sakit.
Setiap batuk Sudirman adalah teror psikologis buat pasukannya. Batuk itu pelan, ditahan-tahan agar tidak bersuara keras dan memancing patroli Belanda yang kadang jaraknya cuma beberapa ratus meter dari tempat mereka bersembunyi. Tapi dari mulutnya, sering kali keluar percikan darah. Darah yang mengotori sapu tangannya.
Di tengah rasa sakit yang merobek dada setiap kali dia menarik napas, Sudirman tetap memimpin. Dari atas tandu yang bergoyang-goyang itu, instruksi militer tetap mengalir. Dia mengoordinasikan "Wehrkreise"—sistem pertahanan daerah di mana tentara yang tercerai-berai menyusup kembali ke kota-kota, melakukan serangan kilat, lalu menghilang seperti hantu.
Serangan Umum 1 Maret 1949 di Jogja? Itu bukan ide yang turun dari langit, itu hasil dari strategi gerilya yang urat nadinya dikendalikan oleh pria sekarat di tengah hutan.
Ada satu momen yang sangat mencekam, momen yang menunjukkan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati.
Suatu hari di daerah Kediri, intelijen Belanda berhasil mencium jejak rombongan Sudirman. Pasukan Korps Speciale Troepen (pasukan baret hijau Belanda yang terkenal brutal) mengepung desa tempat Sudirman beristirahat. Jarak mereka sudah terlalu dekat. Suara derap sepatu lars Belanda sudah terdengar di ujung desa. Pesawat pengintai berputar-putar di atas genteng.
Kepanikan melanda pengawal. Tidak ada jalan keluar yang logis. Mereka kalah senjata, kalah jumlah. Tapi ini realitas. Baku tembak berarti tamatnya riwayat Republik.
Dalam ketegangan yang bikin napas berhenti itu, Sudirman yang sedang terbaring lemah, memerintahkan pasukannya untuk tetap tenang. Dia tidak berlari. Dia meminta salah satu pengawalnya yang berwajah agak mirip dan punya postur tubuh sepadan, untuk memakai mantel besarnya. Taktik umpan. Sementara pengawal itu lari ke arah yang berlawanan untuk memecah konsentrasi Belanda, Sudirman dan sisa pasukan kecilnya menahan napas, berbaur, atau bersembunyi di tempat yang paling tidak terduga.
Belanda menggeledah rumah-rumah. Ujung laras senjata mereka nyaris menyentuh tempat persembunyian sang Panglima. Namun, entah karena keajaiban, strategi umpan yang brilian, atau memang takdir menolak republik ini mati muda, Belanda pergi berlalu. Mereka gagal mengenali buruan nomor satu mereka.
Momen-momen lolos dari lubang jarum seperti ini terjadi bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali selama lebih dari 200 hari. Perjalanan gerilya itu membentang ratusan kilometer. Dari Bantul, Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek, Kediri, hingga ke lereng Gunung Lawu.
Ini bukan cuma perjalanan fisik. Ini adalah ujian kelayakan sebuah bangsa. Di sepanjang jalan, Sudirman harus menghadapi realitas pahit bahwa tidak semua orang Indonesia mendukungnya. Ada lurah yang ketakutan dan hampir berkhianat. Ada mata-mata yang disusupkan Belanda. Kelaparan merajalela. Pasukannya harus makan ubi liar, dedaunan, atau apa pun yang bisa dikunyah untuk mengganjal perut.
Tapi di tengah semua penderitaan yang melampaui batas kewarasan manusia itu, ada satu hal yang konstan: Sudirman tidak pernah mengeluh.
Dia tidak pernah meminta porsi makanan yang lebih besar. Ketika pasukannya kelaparan, dia ikut kelaparan. Ketika mereka kehujanan, mantel usangnya adalah satu-satunya pelindungnya. Integritasnya menyala begitu terang, memaksa para prajurit yang tadinya ragu-ragu dan putus asa, menjadi malu pada diri mereka sendiri. Jika Panglima mereka yang paru-parunya hancur saja menolak untuk menyerah, hak apa yang mereka miliki untuk mengeluh lelah?
Inilah yang sering luput dari buku sejarah kita yang membosankan. Kekuatan Sudirman bukan pada ototnya. Secara fisik, dia adalah orang terlemah di seluruh rute gerilya itu. Kekuatannya ada pada moralnya. Pada etika keras kepalanya. Pada keyakinannya yang menembus batas-batas rasionalitas.
Tujuh bulan kemudian, pertengahan 1949, tekanan internasional dan kegigihan gerilya membuat Belanda akhirnya menyerah pada keadaan. Mereka dipaksa kembali ke meja perundingan. Perjanjian Roem-Royen disepakati. Ibukota Jogja dikembalikan. Soekarno dan Hatta dibebaskan.
Pemerintah memanggil Sudirman pulang. Awalnya dia menolak. Dia tidak percaya pada janji Belanda, dan jujur saja, dia muak dengan politisi yang menurutnya terlalu cepat kompromi. Tapi demi persatuan bangsa yang baru seumur jagung itu, sang Panglima mengalah.
Tanggal 10 Juli 1949, dia kembali ke Yogyakarta.
Pemandangan hari itu menyayat hati sekaligus membangkitkan merinding yang luar biasa. Rakyat berjejal di jalanan. Mereka menunggu jenderal yang selama tujuh bulan menjadi mitos hidup di hutan-hutan. Dan ketika iring-iringan itu muncul, mereka terdiam.
Sosok yang turun dari kendaraan itu bukanlah jenderal dengan dada membusung dan seragam rapi berkilat. Yang muncul adalah seorang pria yang nyaris menyerupai tengkorak hidup. Mantelnya kumal, wajahnya sangat tirus, tulang pipinya menonjol tajam. Dia harus dipapah karena kakinya sudah terlalu lemah untuk menopang berat badannya yang tak seberapa.
Ketika dia bertemu kembali dengan Soekarno, kedua bapak bangsa itu berpelukan. Sebuah pelukan antara dua jalan yang berbeda—diplomasi dan senjata—yang akhirnya menyatu kembali. Air mata tumpah, bukan hanya dari mereka, tapi dari siapa saja yang melihatnya.
Tugasnya selesai. Dia telah membuktikan bahwa meskipun para pemimpinnya ditangkap, TNI dan Republik Indonesia masih bernapas. Dia telah memaksa dunia internasional melihat bahwa Indonesia menolak untuk dihapus dari peta.
Tapi harga yang harus dia bayar sangat mahal. Hutan telah mengambil sisa-sisa terakhir dari daya tahan tubuhnya.
Enam bulan setelah kembali, pada 29 Januari 1950, di Magelang, paru-paru yang hancur itu akhirnya berhenti bekerja. Pria keras kepala itu menghembuskan napas terakhirnya.
Usianya? Baru 34 tahun.
Angka yang sangat pendek buat ukuran umur manusia biasa. Tapi dalam waktu yang begitu singkat, dalam napas yang begitu terbatas, dia berhasil membangun sebuah fondasi etika militer dan keteguhan moral yang menembus lintas zaman.
Raga sang Panglima Besar kini sudah lama menyatu dengan tanah Semaki di Yogyakarta. Mantel panjangnya yang tebal mungkin sudah usang dan berdebu dimakan waktu. Tandu bambu yang menjadi saksi bisu penderitaannya cuma jadi artefak bisu di museum sejarah, dilihat oleh anak-anak sekolah yang mungkin tidak benar-benar paham rasa sakit yang pernah ada di atasnya.
Tapi coba kita ngaca sebentar. Di era sekarang, di mana kita hidup dalam zaman yang gampang sekali alergi dengan yang namanya tanggung jawab. Di zaman di mana integritas sering dibarter dengan kenyamanan sesaat, di mana Jabatan sering dipakai untuk mengelabuhi rakyat, korupsi,kolusi dan nepotisme dan menyengsarakan rakyat.
Sosok Panglima Besar Jendral Sudirman seperti cermin retak yang memaksa kita ngaca ulang secara brutal.
Dia mengajari kita bahwa prinsip hidup yang kokoh itu butuh harga yang mahal untuk dibayar. Terkadang harganya adalah kenyamanan. Terkadang harganya adalah kesehatan yang hancur. Dan terkadang, harganya adalah ketidakpahaman orang lain terhadap jalan yang kita pilih.
Kisah Sang Jendral Besar di tengah hutan itu bukan sekadar soal bagaimana Indonesia merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah. Terlalu kerdil kalau kita hanya melihatnya sebagai cerita perang.
Ini adalah cerita abadi tentang seorang manusia biasa. Manusia yang bisa sakit, bisa batuk darah, bisa kedinginan, dan bisa mati muda. Tapi beluau adalah manusia biasa yang memilih untuk mengacungkan jari tengah pada nasib dan kemustahilan, memilih untuk tidak menyerah, ketika seluruh alam semesta rasanya sudah berteriak menyuruhnya berhenti.
Tidak terbayangkan, jika hari itu, di pagi 19 Desember 1948, Beliau memilih untuk tetap tidur di kasurnya?
Red : Bagus Alfa
#pangsar #jendralsudirman #sejarahindonesia #seranganumum1maret #jogjakarta #indonesia