Politik
Sorotan Retorika "Londo Ireng": Membedah Dua Sisi Sejarah Perang Jawa dalam Silsilah Presiden Prabowo
R
R. Syarif Umar Al Faruq P
Diterbitkan: 27 Jul 2026 14:20 WIB
Sorotan Retorika "Londo Ireng": Membedah Dua Sisi Sejarah Perang Jawa dalam Silsilah Presiden Prabowo
Berita​ BanaspatiNetSeven.com ][ Jakarta - Pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung istilah "Londo Ireng" (Belanda Hitam) belakangan ini memantik diskursus luas di ruang publik. Dalam pernyataannya, Presiden menggunakan istilah tersebut untuk menyentil pihak-pihak yang dinilai kerap mengkritik pemerintah karena mendapat dukungan asing. Alih-alih meredam kritik, retorika ini justru memicu warganet untuk menggali literatur sejarah, memunculkan sebuah paradoks masa lalu yang berkaitan langsung dengan silsilah genetik sang Presiden.
​Berdasarkan fakta historis yang terdokumentasi, silsilah keluarga Prabowo Subianto menempatkannya sebagai sosok yang mewarisi dua pusaran sejarah yang saling berseberangan pada masa Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830).
​Garis Ibu: Benjamin Thomas Sigar dan Pasukan Hulptroepen
​Ramainya perdebatan di media sosial bermula ketika warganet menyoroti leluhur Prabowo dari garis ibu, Dora Marie Sigar. Arsip sejarah mencatat nama Benjamin Thomas Sigar (sekitar 1790–1879), seorang Tonaas (pemimpin adat atau kepala walak) dari Langowan, Minahasa, yang kelak diberi gelar Mayor oleh pemerintah kolonial Belanda.
​Pada saat Perang Jawa berkecamuk, pasukan kolonial di bawah komando Jenderal Hendrik Merkus de Kock kewalahan menghadapi taktik gerilya Pangeran Diponegoro. Untuk memecah kebuntuan, Belanda merekrut pasukan bantuan dari luar Pulau Jawa.
​Benjamin Thomas Sigar tercatat memimpin Pasukan Tulungan (Hulptroepen), sebuah unit militer asal Minahasa yang diterjunkan langsung untuk membantu Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) dalam menumpas perlawanan Diponegoro. Pasukan ini turut dikaitkan dengan rangkaian operasi militer yang berujung pada penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang pada Maret 1830.
​Dalam konteks sosiologis dan historis masyarakat Jawa pada masa itu, pasukan pribumi yang direkrut oleh pemerintah kolonial untuk memerangi bangsanya sendiri inilah yang kerap dilabeli dengan sebutan "Londo Ireng".
​Garis Ayah: Raden Tumenggung Kertanegara di Barisan Diponegoro
​Di sisi lain, catatan sejarah juga membenarkan bahwa garis keturunan dari pihak ayah Prabowo berada di kubu yang berlawanan. Melalui mendiang ayahnya, Prof. Sumitro Djojohadikusumo, silsilah keluarga ini dapat ditarik hingga ke bangsawan Mataram.
​Salah satu leluhurnya adalah Raden Tumenggung Kertanegara, yang juga dikenal dengan nama Raden Banyakwide. Berbeda dengan Benjamin Sigar, Raden Tumenggung Kertanegara merupakan salah satu panglima dan pengikut setia Pangeran Diponegoro. Ia tercatat mengangkat senjata dan berjuang dengan gigih melawan pemerintah kolonial Belanda di wilayah Kebumen dan sekitarnya.
​Ironi Retorika dan Kompleksitas Sejarah
​Pertemuan dua garis keturunan ini satu di kubu sekutu Belanda dan satu di barisan perlawanan Diponegoro menunjukkan bahwa Prabowo Subianto pada dasarnya adalah cerminan langsung dari kompleksitas sejarah Nusantara itu sendiri.
​Sejumlah sejarawan mengingatkan bahwa fenomena keterlibatan pasukan pribumi di pihak kolonial tidak bisa sekadar digeneralisasi dengan kacamata masa kini. Ada dinamika politik, kebutuhan militer, serta hubungan antarkerajaan yang sangat kompleks pada abad ke-19, sehingga sejarah tersebut harus dipahami secara utuh dan tidak sekadar hitam-putih.
​Kendati demikian, dari kacamata komunikasi politik saat ini, isu ini menyoroti sebuah ironi. Ketika istilah "Londo Ireng" digunakan sebagai senjata retorika untuk mendiskreditkan warga negara yang kritis, publik dengan cepat merespons menggunakan literasi sejarah. Diskursus yang berkembang menegaskan bahwa penggunaan sentimen historis masa lalu untuk kepentingan politik masa kini dapat berbalik menjadi kritik yang tajam, terutama ketika sejarah mencatat bahwa narasi yang sama pernah hidup di dalam silsilah keluarga sang pemimpin itu sendiri.
Red ; AGF